Bayi Tabung :Tahapan Program Bayi Tabung

07/06/2013 01:12

1. Tahap Persiapan  Pasien

     Peserta (pasangan suami-istri) akan mendapat informasi lengkap tentang proses Bayi Tabung, termasuk tahapan-tahapan yang akan dilakukan, obat-obatan yang akan digunakan, jenis protokol pengobatan, cara penyuntikan, kemungkinan pembatalan pengobatan serta perincian biaya. Untuk pasangan yang telah memutuskan  mengikuti program Bayi Tabung, akan dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu Darah lengkap, Fungsi Hati, Fungsi Ginjal, Hepatitis A, B, dan C serta HIV.  Untuk suami dilakukan pemeriksaan Analisa Sperma. Dari hasil sperma analisa itu barulah ditentukan jenis proses bayi tabung yang akan dilakukan , apakah Konvensional atau ICSI atau PESA + ICSI

2. Tahap Pengobatan/Stimulasi Ovarium dan Pemantauan

     Sebelum memulai stimulasi ovarium, pada hari ke 3  dilakukan pemeriksaan  Lab. Hormon pada istri yaitu LH, FSH, E2, dan Prolaktin serta dilakukan USG TransVaginal  (TVS), untuk mengetahui  cadangan folikel/ sel telor dan untuk menentukan Protokol Stimulasi. Proses  Bayi Tabung sangat individual dalam pemilihan protokol pengobatan/stimulasi ovarium, hal ini sangat tergatung pada  Usia ibu, Berat badan (BMI), cadangan ovrium yang tercermin dari pemeriksaan hormon (FSH dan atau AMH) dan Antral Follicle Caunts /AFC (dari pemeriksaan TVS)

Adapun jenis Stimulasi Ovarium antara lain : Protokol Panjang Agonis, Protokol Pendek Agonis, Protokol Pendek Antagonis dan Protokol Mini.

      Pemantauan pengobatan dilakukan  3 sampai 4 kali dengan pemeriksaan hormon E2 dan TVS untuk mengetahui pertumbuhan folikel dalam indung telor (ovarium). Pengobatan dinytakan berhasil bila dari pemeriksaan TVS dan hormon E2 didapatkan : jumlah folikel lebih dari 3 dengan diameter 18- 20 mm, ketebalan lapisan bagian dalam rahim (endometrium) antara10 sampai14 mm, dan kadar E2 lebih dari 600 pg/ml (200-250 / folikel)

3. Tahap Pengambilan Sel Telor dan Pembuahan

     Proses pengambilan sel telor (Ovum Pick Up /OPU) dilakukan dibawah pebiusan umum dan ditutun dengan USG transvaginal, pencoblosan dan pegisapan caira folikel dan sel telor yang ada didalamnya dilakukan dengan menusukan jarum halus melalui area dibawah/disamping mulut rahim.

     Proses pumbuahan akan dilakukan secara konvensional bila jumlah sel sperma normal yaitu dengan meneteskan sperma yang sdh diproses/preparasi kedalam cawan yang sdh ada sel telor didalamnya. dan bila sperma ada kelainan (dalam jumlah, gerak atau bentuk normalnya sedikit) akan dilakukan ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection) yaitu dengan mengambil satu sperrma yang bagus dan menyutikan kedalam satu sel telor, proses ini dilakukan dengan alat khusus dibawah mikroskop elektron.

4. Tahap Penanaman Embrio

     Setelah terbentuknya embrio dari hasil pembuahan  maka pada hari ke 3 (OPU adalah hari ke 0) dilakukan penanaman embrio atau Embryo Transfer (ET). Pada hari ke 3 biasanya dilakukan penanaman embrio setelah membelah menjadi 8 sampai 10 sel, dan bila embrio yang didapatkan banyak (6 atau lebih) dapat ditunggu sampai embrio fase Blastokist dan penanaman dilakukan pada hari ke 5 sehingga angka kejadian kehamilan lebih tinggi. Penyimpanan embrio dilakukan bila didapatkan embrio yang baik lebih dari 4 ( penanaman maksimal 4 embrio) atau karena suatu keadaan ibu / rahim dimanna tidak dimungkinkan dilakukan penanaman embrio.

5. Tahap Penguatan Rahim/Support fase luteal

     Penguatan rahim diberikan dapat berupa suntikan hormon HCG pada hari ke 5, 8 dan 10 setelah pengambilan sel telor/OPU, atau dapat  diberikan hormon Progesteron pervaginam mulai saat  penanaman embrio.

      Test kehamilan dilakukan pada hari ke 15 setelah sel telor/OPU atau hari ke 12 setelah ET yaitu dengan pemeriksaan hormon beta hCG pada darah ibu dan bila hasilnya diatas 10 pg/ml ibu dinyatakan hamil secara kimiawi, 2 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat adanya kantong janin (Gestation Sac / GS).